http://kata.news


HOME I NUSANTARA I MANCANEGARA I EKBIS I OLAHRAGA I IPTEK I HIBURAN

ads

Kehilangan Posisi Jaksa Agung dan Tak Dapat Menteri, Nasdem Tetap Dukung Jokowi

JAKARTA –  Kalangan Partai NasDem tidak galau dan takut kehilangan jabatan Jaksa Agung dan menteri di Kabinet Indonesia Kerja (KIK) Jilid II, seiring dengan peryataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut bahwa jabatan di Kejagung dari luar parpol.

NasDem sejauh ini telah mengambil langkah seperti  pertemuan Surya Paloh dengan Anies Baswedan sudah dikontraproduktifkan dengan pertemuan Megawati – Prabowo. Disusul pernyataan Jokowi soal jabatan Kejagung bukan dari parpol dihadapkan dengan pernyatan Surya Paloh di Kampus UI, yang menyebut ekonomi Indoensia kapitalis dan liberalis.

"Tak benar, NasDem galau dan takut kehilangan jabatan di Jaksa Agung. Itu cuma gosip. Sebab, dukungan NasDem sejak pemilu 2014 dan 2019 ini tanpa syarat. Tapi, terus diserang dengan berbagai spekulasi politik," tegas Jhonny G. Plate, Ketua Fraksi NasDem DPR RI, di DPR, Kamis (15/8/2019).

Dia berbicara itu  di forum dialektika demokrasi 'Menebak Calon Menteri Jokowi dari Parpol atau non Parpol'  bersama anggota DPR RI FPDIP Effendi Simbolon, dan pengamat politik dari UI, Ari Junadi, yang digelar siang itu.

Karena itu lanjut Jhonny, silakan saja Presiden Jokowi memilih Kejagung dari luar partai, itu hak prerogatif presiden. Bahwa Nasdem tak pernah meminta dan apalagi menyodorkan portofolio calon menteri ke presiden.

"Presiden Jokowi tahu, siapa yang terbaik untuk pembantunya. Kejagung itu, yang terpenting keluarga Adyaksa. Mau dari luar parpol, profesional, atau PNS, selama Adyaksa tidak masalah. Jangan sampai menyerang NasDem dengan argumen imajinatifnya justru karena mengincar jabatan Kejagung," jelasnya.

Bahkan kata Jhonny, kalaupun NasDem tidak mendapat jatabatan satu menteri pun tak akan mengurangi dukungan NasDem kepada Jokowi – Ma'ruf Amin.

"Tak dapat menteri satu pun NasDem tetap kawal pemerintahan Jokowi. Sebaliknya, kalau dapat satu dua orang kader NasDem di kabinet, maka mereka ini harus keluar dari partai, agar fokus bekerja," ungkapnya.

Apalagi sampai ada yang menjustifikasi pertemuan Surya Paloh dengan Anies, itu koalisi pecah? "Koalisi parpol pendukung Jokowi – Ma'ruf Amin tetap solid dan makin kuat. Termasuk untuk pimpinan MPR RI, siapa yang akan menjadi Ketua dan Wakil Ketua MPR itu akan dilakukan secara musyawarah mufakat," pungkasnya. (timyadi/win)



Sumber: Poskotanews.com

Klik tautan (link) sumber jika konten berita terpotong atau tidak lengkap
loading...